AMALAN YANG DAPAT MENGHAPUS DOSA

BEBERAPA AMALAN YANG DAPAT MENGHAPUS DOSA, antara lai :
oleh Burhanuddin Jambi pada 21 Desember 2012 pukul 11:25 ·
1. Istighfar dan Zikir Kepada ALLah

Istghfar, merupakan haknya Allah dan sekaligus merupakan kewajiban hambanya terhadap Allah dan juga merupakan kebutuhan hambanya kepada sang pencipta’
Pada hakekatnya tidak ada seorang hamba yang hidup dimuka buminya Allah ini yang terlepas dari dosa dan kesalahan karena kullubani adam khottoun  wakhoirul khottoinn ttaauwabun ( manusia itu selalu bersifat khilaf dan lupa ) tapi Allah selalu mengobral Rahmatnya untuk hamba-hambanya yang selalu mendekatkan dirinya kepada Allah dengan selalu membasahi lidahnya untu zikir serta minta ampun dengan meneteskan air matanya tentunya dengan menetapi RUKUN ISLAM serta meyakini RUKUN IMAN serta berusaha dengan segala kemampuannya tidak berbuat dosa besar
2. Bertobat dengan Penuh penyesalan atas segala kesalahan

Dosa dan kesalahan yang kita lakukan baik yang kita sadari maupun yang kita tidak sadari jika kita bertobat dan selalu minta ampun kepada Allah dengan segala pengharapan dengan penuh keyakina bahwa Allah maha pengampun lagi Maha penerima Tobat “Innallahaghofururrahiim” ( sesungguhnya Allah maha pengapun lagi maha penyayang ) dll
Jadi apabila seorang hamba selalu banyak berzikir serta beribadah kepada Allah dengan penuh harap serta penyesalan mendalam atas kesalahanya maka pasti Allah akan mengampuni karena Allah memiliki hak mutlaknya dalam hal yang demikian itu sebagaimana firman Allah dalam surat Aliimron 135, ” Dan orang-orang yang ketika berbuat keji baik pada orang lain atau aniaya terhadap dirinya maka mereka zikir serta minta ampun mereka atas dosa-dosa yang mereka lakukan dan tidak ada yang mengampuni dosa hamba kecuali Allah dan mereka tidak larut dalam melakukan kesalahan/dosa-dosa yang mereka telah ketahui itu”. Kemudian sabda nabi  “Penyesalan yang hamba lakuka itu merupakan rangkaian tobatnya seseorang”.  Justru karena itu segeralah banyaklah zikir dan minta ampun pada Allah dengan penuh penyesalan. Dan tobat itu harus segera kita lakukan jangan menunggu datangnya sakaratul maut, orang yang tobatnya sudah mendekati sakaratul maut tidak akan diterima oleh Allah
3. Berwudhu dengan sempurna dan SholatSunat Dua rakaat

Wudhuk dengan benar dan sempurna merupakan salah satu cara penghapusan dosa-dosa hambannya Allah karena tidak diterima sholatnya seseorang tampa bersuci/ berwudhu dan juga tidak diterma sodaqohnya orang dari harta curian ( H R Muslim ) dan sabda nabi yang diriwayatkan Abu Daud  “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak wudhuk baginya dan tidak ada wudhuk bagi orang yang tidak menyebut nama Allah(Bismillah )”
Bagi seorang islam yang mengerjakan sholat lima waktu dia berwudhuk dengan sempurna(berdasarkan petunjuk Allah dan rosulullah) maka sholatnya sah dan wudhuknya menjadi penebus dosa-dosanya, dimana pada saat dia membasuh tangan menghirup air kehidung serta berkumur kemudian mengeluatkannya maka keluar/rontok dosanya bersamaan mengalir/netesnya air tersebut, demikian juga pada saat membasuh muka/wajahnya, membasuh tangan sampai sikutnya, mengusap kepalanya serta membasuh kakinya sampai mata kaki dengan menyela nyela jari kaki maka akan hilang/rontok dosa yang pernah dilakukan anggota anggota badan tersebut bagaikan seperti dia baru dilahirkan ibunya. Hal ini seperti hadist yang diriwayatkan oleh Muslim
“Sesungguhnya Usman bin Affan RA minta air wudhu maka dia berwudhu, dia membasuh dua telapak tangannya 3X, kemudian berkumur dan menghisap air kehidung kemudian mengeluarkan atr dart hidung, kemudian membasuh wajahnyanya 3X, kemudian membasuh tangan kanan hingga sikutnya 3X serta tangan kiri juga 3X, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuk kakinya kanan sampai mata kainya demian juga kaki kirinya 3X. Kemudian Usman berkata seperti itulah aku melihat Rosulullah berwudhu, maka Rosulullah bersabda Barang siapa yang berwudhu seeperti wudhukku ini
Kemudian mendirikan sholat dua rokaat dengan khusuk, maka diampuni dosa dosanya yang telah lalu”
Dan ada juga beberapa hadist lain yang hampir senada dengan itu dan ada tambahan yaitu setelah dia wudhu kemudian sholat sunat, lalu berjalan menuju masjid untuk sholat berjamaah maka langkah kakinya akan menambah sepuluh kebajikan dari setiap langkahnya dan menghilangkan sepuluh kejelekan, ketika dia berdiri sholat maka Allah mengangkat derajatnya kemudian ketika dia duduk maka duduknya dalam keadaan selamat
Semoga tulisan ini ada mamfatnya bagi penulis sendiri serta memotivasi para pembaca untuk mengoreksi kebenaran isi hadist serta harapan yang diinginkan sehingga menjadikan kita hamba yang selalu belajar dan beramal sholih Man’amila shliha falinafssih (barang siapa yang berbuat baik maka mamfaat bagi dirinya)
By Burhanrawas

Pahala Puasa menjadi Sama dengan SETAHUN ?

Selasa, 11 Desember 2012

Oleh: Rudi Abdillah

Puasa Ramadan 1433 H baru saja selesai. Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Alloh SWT karena hanya dengan karuniaNya kita dapat lulus melewati berbagai cobaan dalam menjalani puasa Ramadan. Semoga Alloh menjadikan kita sebagai golongan yang memperoleh kemenangan dan ampunan.

Sebagai umat Islam dengan kefahaman agama yang tinggi, seharusnya semua gerak kehidupan kita sehari-hari diarahkan untuk dapat menghasilkan tabungan pahala yang sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, kita seharusnya selalu membiasakan menyambung satu amal ibadah dengan amal ibadah lainnya. Dengan kata lain disela-sela kesibukan hidup sehari-hari yang dijalani, kita harus selalu berusaha setelah selesai melaksanakan satu kebaikan kemudian disambung atau dilanjutkan dengan amal kebaikan yang lain. Alloh SWT. di dalam Al-Qur’an telah berfirman: “Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan) kerjakanlah dengan sungguh (urusan ibadah) yang lain.” (QS. Alam Nasroh:7).

Puasa Ramadan telah diselesaikan dan kedatangan bulan Syawal disambut dengan suka cita, sebagai bentuk kesyukuran atas keberhasilan dalam menjalankan amal ibadah puasa Ramadan. Kembali pada pokok bahasan menyambung kebaikan, dalam bulan Syawal telah disediakan amal ibadah yang siap untuk dipraktekkan umat Islam jika ingin menyambung kebaikan setelah puasa Ramadan. Dibanding amal ibadah yang dikerjakan, sungguh besar pahala yang disediakan oleh Alloh bagi orang yang mau mengerjakan.

Di dalam hadits diriwayatkan Rasulalloh SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutkan puasa enam hari di bulan Syawal, dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun” (HR. Shohih Muslim dalam Kitabu Shoum). Dari hadits tersebut tersirat betapa besarnya pahala seorang Muslim yang sukses menyelesaikan berpuasa Ramadan satu bulan penuh dan menyambungnya dengan berpuasa enam hari selama bulan Syawal. Karena bagi kaum muslimin yang mampu menyambung puasa Ramadan dengan puasa enam hari di bulan Syawal disediakan pahala sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun penuh.

Barangkali kita bertanya bagaimana logikanya? Menurut perhitungan manusia, puasa di bulan Ramadan (30 hari) ditambah puasa di bulan Syawal (6 hari) seharusnya total puasa hanya 36 hari. Namun demikian, bagi Alloh ternyata perhitungan manusia tersebut tidaklah berlaku. Menurut keterangan, puasa Ramadan (30 hari) plus puasa di bulan Syawal (6 hari) – total 36 hari; dikalikan dengan kelipatan 10 untuk setiap kebaikan yang dilakukan maka 36 hari x 10 = 360 hari atau sama dengan satu tahun. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Sauban maula Rasulalloh dari Rasulalloh SAW, beliau bersabda: “Barang siapa yang puasa enam hari setelah Iedul Fitri baginya sempurna puasa satu tahun.” Berdasarkan firman Alloh:“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya pahala 10x lipat dari amalannya” (ket. QS. Al-An’am:160) (HR. Ibnu Majah dalam Kitabu Shoum).

Pertanyaannya, lantas bagaimana teknis pelaksanaannya? Untuk mendapatkan pahala puasa setahun, pelaksanaannya dapat dilakukan dengan berbagai strategi, tergantung bagaimana yang mudah bagi masing-masingnya.
Sebagai contoh: karena puasa Ramadan telah dijalani secara penuh maka hanya pas hari Iedul Fitri (tgl. 1 Syawal) tidak berpuasa dan langsung dilanjutkan dengan enam hari (tgl. 2-7 Syawal) berpuasa. Contoh lain: setelah penuh berpuasa di bulan Ramadan, ada yang masih ingin menikmati hari-hari tidak berpuasa selama bersilaturrahim, maka puasa enam harinya tidak dilakukan di awal bulan Syawal tetapi dapat dilakukan kapan saja selama dilengkapkan enam hari di bulan Syawal.

Bagi yang sempat mokel (tidak berpuasa) selama beberapa hari di bulan Ramadan karena alasan yang dibenarkan oleh agama, maka hari-hari tidak berpuasanya tersebut tentu saja harus diganti. Untuk itu, selama bulan Syawal, dapat dipraktekkan berpuasa sehari yang diniatkan untuk memulai mengganti puasa wajibnya (puasa Ramadan yang ditinggalkan) dan dilanjutkan dengan niat berpuasa selama enam hari di dalam bulan Syawal. Selanjutnya, kekurangan puasa Ramadannya dapat diganti di bulan Syawal juga atau di bulan-bulan lainnya. Dan berbagai variasi dari contoh tersebut, yang penting bahwa berpuasa enam harinya harus dilakukan selama bulan Syawal. Memakai tag-line kampanye Pemilu beberapa tahun lalu, tentu saja “Lebih cepat – lebih baik.”

Ayo siapa mau mendapat pahala berpuasa selama satu tahun? Kalau kita ingin mendapatkan imbalan pahala yang sedemikian besar dari ibadah berpuasa kita, ayo menyambung puasa Ramadan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Semoga Alloh memberikan kesempatan dan kemampuan bagi kita semua untuk meraih pahala puasa setahun penuh. Amiin 313x

Cingkrang

Jum’at, 7 Desember 2012  11.00

cingkrang ldiiSemakin hari, rasanya semakin banyak orang yang bercelana cingkrang atau ngatung. Maksudnya memakai celana panjang tetapi di atas mata kaki, tidak melewati ke dua mata kaki. Di bilangan Kebayoran Lama misalnya, banyak remaja – remaja berseragam dengan celana cingkrang. Demikian juga di seputar Blok M. Atau juga yang sering saya lihat di sekitar BSD – Muncul. Mereka memang rata – rata anak – anak sekolahan, baik SMP maupun SMA. Di tempat – tempat umum juga sama. Rupanya kesadaran berbusana yang benar sudah mulai dimengerti. Dugaan saya kalau di sekolahan memang akan lebih gampang, jika itu diterapkan sebagai aturan sekolah. Di luar institusi tentu akan berbeda, kecuali memang mempunyai pemahaman yang benar tentangnya.

Beberapa minggu yang lalu saya sibuk memendekkan celana. Ada dua potong celana saya yang saya kirim ke penjahit untuk dipendekkan. Bukan celana baru sih, tetapi celana yang sempat membuat saya risih. Sampai – sampai seorang teman berseloroh, “Sudah tua kok masih nambah terus tingginya ya Mas? Bukannya biasanya tumbuhnya ke samping? Tapi kok celananya dipendekin lagi.” Saya hanya mesem menanggapinya.

Ceritanya, itu celana memang sudah di atas mata kaki. Berhubung lingkar pinggang menyusut, setiap kali pakai selalu mlorot. Daripada repot – repot terus ngurusi celana (mengangkat dan menyingsingkan celana), maka keluarlah inisiatif dipendekkan saja. Sebenarnya waktu bikin dulu sudah dibuat di atas mata kaki, tetapi kenapa penjahitnya ketakutan kalau salah, hasilnya ngepress banget. Pas di atas mata kaki. Baru sekarang setelah dipotong lagi, nyaman pakainya. Meminjam istilah quran: hanii’an marii’a. Nggak segitunya…kali! Yah saking bahagianya, bercelana cingkrang.

Walau sudah bertambah banyak peminatnya, sejatinya masih banyak yang belum tahu atau keberatan dengan model cingkrang ini. Untuk itu, kali ini saya mencoba untuk menyajikan kembali dasar hukumnya. Dan sepanjang hemat saya inilah yang menjadi kendala khalayak.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar ra bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Al-Bukhari dan sebagiannya diriwayatkan Muslim)

Hadits ini yang banyak dijadikan hujjah untuk boleh bercelana nglembreh; yang penting tidak sombong. Padahal kalau mau lebih cermat lagi, kunci hadits di atas adalah perkataan Abu Bakar menyingsingkan. Namun kalau masih bersikukuh asal tidak sombong bolehlah. Daripada bertengkar, coba kita tengok yang satu ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Suatu ketika ada seseorang shalat dengan memanjangkan kain sampai di bawah mata kaki. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, “Pergilah dan berwudhulah.” Lalu ia pergi dan berwudhu. Kemudian ia datang dan Nabi bersabda, “Pergilah dan berwudhulah.” Kemudian ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, “Ya Rasulallah, kenapa Anda menyuruhnya untuk berwudhu lalu Anda diamkan?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki; Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki.” (HR. Abu Dawud dengan isnad Shahih sesuai syarat Muslim)

Nah, kalau sholatnya tidak diterima karena celana nglembreh, terus bagaimana? Padahal semua tahukan, sholat adalah amalan paling pol dan pertama ditanya nanti di hari Qiyamat. Gara – gara kita memakai pakaian nglembreh terus sholat gak diterima, wassalam sudah. Bagi yang penasaran boleh juga membaca komentar Imam al-Buwaithi dari al-Syafi’i dalam Mukhtasharnya. Ia berkata, “Isbal dalam shalat maupun di luar shalat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu.” Wuih teges banget imam ini. Di sudut sana ada yang berkilah, kan kalau sholat dilinting (dinaikkan) celananya? Baik, kita baca yang satu ini.

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,”Kain (sarung/pakaian) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika ada di antara betis dan dua mata kaki. Adapun yang sampai di bawah kedua mata kaki, maka ia berada di neraka. Siapa yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya.” (HR. Abu Dawud dengan isnad shahih)
Berhubung hadits ini masih ada kata – kata sombong, maka terkesan kurang afdhol. Karena akan mirip dengan yang atas. Sekarang kita simak yang singkat ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda,”Apa-apa yang berada di bawah mati kaki itu berada dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Nah, kalau tiga hadits ini belum menyentuh hati, ya sudah. Gak apa – apa. Hidup adalah pilihan, dalam arti semua nanti akan dipertanggungjawabkan masing – masing. Tidak perlu kita geger masalah cingkrang ini, cukup tahu sama tahu. Kalau mau mengikuti ya syukur, kalau tidak ya diri sendirilah yang menentukan.  Bahkan Imam Muslim dalah Shahihnya menerangkan dengan tegas larangan/haramnya isbal (menjulurkan kain di bawah mati kaki) ini.
“Bab: Keterangan beratnya keharaman menjulurkan kain (di bawah mata kaki;- disebut Isbal-), mengungkit-ungkit pemberian, menjual barang dagangan dengan sumpah palsu adalah tiga golongan yang mereka tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka dan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.”

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Tiga orang yang bakal tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat dan menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membacanya sebanyak tiga kali”. Abu Dzar berkata, “Kecewa benar mereka dan sangat merugi. Siapakah mereka itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki (musbil), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (al-Mannan), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

Yang jelas kini saya tambah gembira sebab semakin banyak orang yang bercelana cingkrang. Artinya semakin banyak orang yang tahu ilmu dan kebenarannya bahwa itu adalah aturan dan hukum islam. Bukan punyanya para ekstrimis atau teroris yang memang ketahuan pada cingkrang celananya. Tapi itu adalah sunnah untuk para pria. Dan lebih senang lagi ketika dapat menyebarkan kebenaran ini kepada yang lainnya.

Semoga Allah paring manfaat dan barokah…

Mari Kita Satukan Visi Umat pada Islam yang benar

“WA INNAKA LA ‘ALAA KHULUQIN ‘ADZIIM – Dan sesungguhnya engkau Muhammad niscaya memiliki akhlaq yang agung.” Demikian firman Allah SWT didalam Al-Quran Surat Al-Qolam (58:4).

Saya sering menemukan blog yang di gunakan untuk berdakwah dengan cara-cara yang kotor. Miris rasanya hati saat membacanya, seperti layaknya seorang sales marketing sebuah product  yang sedang kejar target menawarkan product serta membuat testimoni untuk menjatuhkan product competitornya, cara yang sungguh kotor dan insyaalloh Alloh pun tidak meridhoinya.
Kenapa ya, orang islam itu suka sekali berpecah belah padahal kalau disatukan Islam itu suatu kekuatan yang maha dahsyat dan alangkah indahnya dunia ini. Seperti prinsip negara kita Bhineka Tunggal Ika walaupun ada dalil yang menyebutkan:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(24) افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

(24 “Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan masuk syurga sedangkan yang tujuh puluh golongan masuk ke dalam neraka, dan orang orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk ke dalam neraka sedangkan yang satu golongan masuk ke dalam syurga. Demi dzat yang diri Muhammad ada di genggaman-Nya niscaya umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, maka yang satu golongan masuk ke dalam surga sedang yang tujuh puluh dua golongan masuk ke dalam neraka, ditanyakan kepada Rasulullah: Siapakah mereka itu (golongan yang masuk ke dalam syurga)? Beliau bersabda: “Al-Jama’ah.” (HR.Ibnu Majah dari Auf bin Malik, Sunan Ibnu Majah dalam Kitabul Fitan:II/479 dan At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:V/2641, Lafadz Ibnu Majah)
Sungguh sangat manusiawi kita selalu menganggap apa yang kita yakini benar, dan pastinya kita tidak mau kalau orang lain menyalahkannya, Seperti Islam mengakui Nabi Muhammad SAW sebagi nabi akhir jaman, Kristen yang mengagungkan Nabi Isa AS sebagai utusan Alloh, Orang hindu yang begitu mengagungkan Khrisna, orang Budha yang selalu memuja Sang Budha Gautama.
Kita Islam dengan keyakinan masing-masing ada Salaf, NU, Muhammadiyah, LDII, Hidayatullah dan masih banyak lagi. Dan kenapa kita selalu mempersalahkan yang lain padahal tujuan kita sama masuk surga selamat dari neraka. Orang Hindupun kalau di tanya pasti tujuannya juga sama “masuk surga selamat dari neraka” mana ada orang yang ingin masuk neraka. Agama yang benar itu ialah agama yang mengajarkan cinta kasih, Tidak Bid’ah, Tidak Syirik, Tidak Tahayul, Tidak berbuat Maksiat dan dosa, memurnikan agamanya  hanya dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist seperti dalil dibawah ini:

Quran Surat Al An’am ayat 153

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ  لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan sesungguhnya ini (Al Quran) adalah jalanKu yang benar maka ikutilah, dan janganlah mengikuti setiap jalan, maka akan tersesat kamu sekalian dari jalan Allah”.

2. Quran Surat Azzuhruf ayat 43

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Maka berpegang teguhlah dengan apa-apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), sesungguhnya engkau berada di jalan yang benar”.

3. Quran Surat Al Hasr ayat 7

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan apa-apa (peraturan) yang Rasul datangkan pada kalian maka ambillah, dan apa-apa yang Rasul melarang maka jauhilah”.

4. Quran Surat An Nisa’ ayat 13

تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Demikian itu undang-undang Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan UtusanNya (Allah) akan memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir dari sekitar Surga beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itu keuntungan yang luar biasa besar”.

Sabda Rosulullah SAW:

1. عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أنَّ رَسُولِ اللهِ صَلَى اللَّه عَلَيهِ وَسَلَمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّةِ نَبِّهِ * رواه مالك فى الموطأ
“Aku (Nabi) telah meninggalkan kepada kamu sekalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat (pasti benarnya) selagi berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabillah (Al Quran) dan Sunah Nabi (Al Hadist)” Hadist riwayat Malik

2. فَإنَّ هَذَا الْقُرْأَنْ طَرَفُهُ بِيَد اللهِ وَ طَرَفُهُ بِأَيْدِكُمْ فَتَمَسَكُوْا بِهِ، فَإِنّكُمْ لَنْ تَهْلِكُوْا وَلَنْ تَضِلّوْا بَعْدَهُ أَبَدًا * رواه الطبرانى
“Maka sesungguhnya ini Al Quran ujungnya yang satu di tangan Allah dan ujung satunya di tangan kalian, maka berpegang teguhlah pada Al Quran. Maka sesungguhnya kalian tidak akan rusak selamanya (pasti selamat) dan tidak akan tersesat (pasti benar) bila berpegang tteguh pada Al Quran” Hadist riwayat Thobroni

3. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ صَلَى اللَّه عَلَيهِ وَسَلَمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ … الحديث * رواه ابن ماجه
“Mencari ilmu itu kewajiban bagi setiap orang Islam”.

Hadist riwayat Nasa’I dari Anas bin Malik

4. العِلْمُ ثَلَاثَةٌ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ ءاَيَةٌ مُحْكَمَةٌ أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ أَوْ فَرِيْضَةٌ عَادِلَةٌ * رواه أبوداود عن عبدالله بن عمرو بن العاص

“Ilmu (yang wajib di cari) itu ada tiga, adapun selain dari tiga itu merupakan lebihan (tidak wajib dicari); ayat yang muhkam (Al Quran) Sunnah yang tegak (Al Hadist) atau ilmu faroid yang adil (ilmu pembagian waris)”.
Hadist riwayat Abu Dawud dari Abdulloh bin U’mar bin A’sh
Dalam sebuah blog pula dikatakan LDII sesat, suka mengkafirkan yang lain, infaq persenan, tidak mau di salahkan, suka ngepel masjid kalau dipakai sholat orang non LDII dan masih banyak lagi. Saya dari kecil lahir dalam keluarga yang ngaji di LDII dan dari kecil pula saya tidak pernah melakukan seperti yang seperti orang-orang tuduhkan itu, bahkan kami sering diajarkan menghargai orang lain yang berbeda-beda, berbudi luhur, saling tolong menolong.  Kita juga tidak bisa menghakimi sebuah golongan Cuma berdasarkan tingkah laku segelintir orang. Misalnya ada seorang yang ngaji di LDII dan menggalang dana dengan iming-iming imbalan atau bagi hasil dari usahanya dan ternyata di bawa kabur dan ternyata tukang tipu, atau  saya jalan-jalan ke lokalisasi dan saya tanya sama si PSK,”Mbak agamanya apa..???” jawab si mbak “Islam mas, NU” terus di penjara ada yang terjerat kasus pemerkosaan dan ternyata orang Muhammadiyah, temen akrab saya seorang pezina, gay bahkan sampai ke singapore, saya tanya dia “apa kamu masih suka ngaji..?” Iya jawabnya..”biar impas” timpalnya lagi, ironisnya dia orang salaf yang tau hukum. Apa karena hal itu kita lantas memvonis orang NU banyak yang jadi PSK, terus orang Muhammadiyah banyak yang suka memperkosa, terus orang salaf itu pezina dan mungkin orang LDII suka menipu..???  Itu tidak bisa, karena kita harus yakin sebuah ajara agama pasti mengajarkan kebaikan, dan kebenaran yang bermuara pada surga, tidak ada yang mengajarkan untuk berbuat dosa. Agama itu hanya ibarat baju bagi orang-orang yang mempunyai bermacam-macam sifat, tabiat, karakter dan tingkah laku. Kita hanya manusia yang diciptakan oleh Alloh lengkap degan nafsu dan ambisi. Mungkin seandainya ada yang melakukan hal-hal seperti diatas, itu hanya produk dari kegagalan sebuah pembinaan akhlaq dan iman. Jadi sebagai umat Nabi Muhammad SAW, hargai perbedaan, Saling tolong menolong serta berbudi luhurlah dengan sesama insyaalloh negara ini aman damai dan sejahtera.

WASPADAI SIFAT- SIFAT ORANG MUNAFIK

Munafik itu tempatnya di neraka
oleh Al-Qur’an & Hadist Today 25 pada  September 2012 pukul 07:00

Dari Abdullah bin Amru dia berkata, “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat  satu sifat dari kemunafikan hingga dia meninggalkannya:

jika berbicara selalu bohong,
jika melakukan perjanjian melanggar,
jika berjanji selalu ingkar,
dan jika berselisih licik.”
(HR. Muslim No. 88) 
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah: 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa’: 145)
Serta banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan ancaman dan sifat-sifat kemunafikan , semoga menjadikan peringatan untuk kita semua terutama umat islam. Kemudian dari itu didalam komunitas kita yang berusaha komitmen dan konsisten untuk menetapi dan mengamalkan ajaran agama islam parah musuh islam baik  yang nampak dengan panca indra maupun yang tidak nampak ( sethan dan  iblis ) selalu berusah dengan segala caranya untuk mengarahkan/ mencondongkan hati kita agar kita merasa paling hebat, ria ujub dsb sehingga kita merasa paling pool sendiri bahkan mungkin meremehkan orang lain yang tampa kita sadari akhirnya kita terjebak dengan sifat-sifat diatas, na’uzubillahi minzalik.
Semoga Allah selalu memantapkan dan menetapkan hati kita semua tetap n mantap dalam HIDAYAHNYA 

BEHAVIOR CHANGE for we all

behavior change/ Perubahan Tingkah laku
Setelah melewati sekian hari di bulan Ramadhan, terbesit dalam benak saya iklan salah satu merk pasta gigi terkemuka beberapa waktu silam. Iklan itu diluncurkan sekitar maret 2012 dengan tema “Gerakan 21 Hari Tari dan Sikat Gigi”. Bahkan berhadiah jalan-jalan ke Hongkong katanya. Sekarang pariwara itu tidak tayang lagi di layar kaca. Apa hubungannya dengan puasa Ramadhan?? hubungannya adalah masalah ‘behaviour change’- perubahan perilaku.

Walau sudah ada target-target tertentu selama menjalani puasa, rasanya dari tahun ke tahun belum ada perubahan signifikan bagi setiap diri yang peduli. Pas bulan Ramadhan tertib, atau agak tertib dibanding selain Ramadhan. Setelahnya akan kembali ke kebiasaan lama lagi. Nah, meminjam
tema iklan di atas, rasanya kali ini kita perlu mencobanya. Bayangkan, selama puasa kita khatam 30 juz Quran, setelah ramadhan bahkan sampai ketemu ramadhan lagi belum bisa mengkhatamkan juga. Lihat shalat sunnahnya. Selama ramadhan aktif taraweh minimal 11 rakaat, lewat ramadhan tak berbekas. Witir yang 1 rekaat saja ogah. Apalagi rutin shalat malam 11 rekaat. Sekarang cermati juga puasanya. Sebulan penuh berpuasa, setelah ramadhan males setengah mati untuk puasa sunnah. Nah, berarti ada yang salah di sini.
Teori ‘behaviour change’ mengatakan untuk mengubah sebuah kebiasaan seseorang maka diperlukan satu periode yang konstan dikondisikan kepada orang tersebut agar mengubah kebiasaannya. Dra. Sani Hermawan, psikolog menjelaskan, Dalam 21 hari itu sendiri terbagi tiga tahap untuk membentuk memori yang memerintah pikiran dan tubuhnya melakukan kebiasaan baru yaitu : 7 hari pertama adalah perkenalan / introduction, dalam tahapan ini ajaklah anak mengenal bentuk kegiatan dengan cara yang menyenangkan; 7 hari kedua adalah pengulangan / Exercise, masuk dalam tahap latihan.
Semakin sering anak melakukan kegiatan tersebut, semakin anak lebih mudah hafal dan menikmati; dan terakhir 7 hari ketiga lebih ke arah penguatan / Stabilization dimana menuju pemantapan. Diharapkan ‘perilaku’ pun terbentuk secara permanen menjadi suatu kebiasaan. Konsistensi diperlukan untuk mencapai perubahan ini, bila alpa sehari saja, maka akan dihitung ulang mulai dari hari pertama lagi. Sebaiknya, dilakukan bersama dengan anggota keluarga atau teman untuk mengingatkan kebiasaan baru tersebut.
Menurut riset Unilever di atas, 21 hari saja bisa merubah perilaku seseorang, apalagi jika 30 hari. Harusya lebih oke, Nandes, Mantep. Namun kenyataan berkata lain…
Kekeliruan atau kekhilafan pertama dalam menyambut ramadhan adalah persepsi mengejar pahala sebanyak-banyaknya. Tidak ada yang salah dengan ‘teori’ semacam ini. Mungkin dalil ini mendasari gerak – langkahnya;
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW orang yang paling dermawan diantara manusia pada kebaikan. Dan beliau paling pemurah pada bulan ramadhan, ketika Jibril bertemu beliau, dan Jibril AS bertemu beliau pada tiap malam di bulan ramadhan hingga selesai. Nabi SAW menyimakkan Al-Qur’an kepadanya. Maka apabila Jibril AS menemui beliau, beliau adalah sangat dermawan dalam kebaikan, lebih murah dari angin yang dilepas”. (HR. Bukhari Juz 2, hal. 228)
Banyak yang lupa terhadap matan hadits di atas, yaitu bahwa Nabi SAW di luar bulan ramadhan tetap paling dermawan diantara manusia. Jadi, jangan terpaku pada esensi lebih dermawan di bulan ramadhan. Sebab sebelum dan sesudah ramadhan tetap dermawan.
sholatKedua adalah masalah konsistensi. Banyak diantara kita tidak mau berniat melatih konsistensi dalam beramal selama ramadhan. Alangkah baiknya jika kita tidak tergesa-gesa dalam beramal di bulan ramadhan ini. Cobalah nanti menikmati taraweh yang 11 rekaat. Kerjakan dengan thuma’ninah,penuh kesungguhan dan kesabaran. cobalah nanti merutinkan membaca 1 juz perhari, dengan tartil dan sabar. Tidak perlu terburu-buru, tetapi dinikmati ayat per ayat, halaman per halaman. Demikian juga amal ibadah yang lain. Kerjakan dengan lebih khusyu’, istiqomah dan menghayati setiap laku amal ibadah kita dengan sabar dan ikhlas. Harapannya, timbul perubahan perilaku dan kesabaran serta kesadaran dalam beramal. Yaa konsisten…
Simak hadits dari Aisyah berikut ini;
“Nabi tidak pernah shalat malam baik di bulan ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at”. (HR. Al-Bukhari No. 1147 dan Muslim No. 738)
Banyak diantara kita yang ngebut, lupa dengan dalil amalan yang disenangi oleh Allah.
Dari’Aisyah’, Nabi SAW bersabda; “Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit”. (Rowahu Muslim).
Dari Aisyah-radhiyallahu’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (Rowahu Muslim)
Dari Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rosulullah SAW ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rosulullah SAW menjawab, “Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.” (Rowahu Muslim).
Jangan hanya kita kampiun di ramadhan saja, tetapi tetap eksis sampai ramadhan depannya. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan spirit tersendiri dalam menjalani ibadah bulan ramadhan.
Dan terakhir, mohon dimaafkan atas kekhilafan dan kesalahan saya yang banyak kirim celoteh-celoteh yang mungkin tidak sopan, kurang ta’dhim, kurang berkenan, dan lain sebagainya. Semoga kita bisa meraih 5 sukses ramadhan tahun ini dengan sehat dan sukses selalu. Amiin….

Harinya Pengamen

Hari Sabtu dan Minggu adalah harinya tukang ngamen…itulah hari rutin saya di rumah nyiapin duit kecil untuk para pengamen yang datang ke rumah..Tapi dari sekian banyak pengamen yang suka datang,saya perhatikan ada yang serius nyanyi,ada yang tidak serius pastilah….

Yang tidak serius,nyanyi asal asalan,suaranya bikin sakit kuping, pakaiannya juga berantakan, dan gayanya sedikit maksa…bahkan ada yang bergaya Punk..hadeuh…Yang seperti gini biasanya, baru datang, gonjreng2…langsung saya suruh anak laki saya keluar ngasih uang logam,biar cepet pergi, dan biasanya kasih “cepek” juga pergi dengan ngedumel…gak pake terima kasih lagi..

Tapi  ada yang datang dengan rapih,dengan salam, sopan sekali, dan ternyata suaranya gak kalah sama Ariel Peterpan,ato afghan..(hehe..agak lebay ya…)..Tapi biasanya kalau dia datang, saya tunda ngasih duitnya, saya siapin agak besar, bukan logam deh.., sampai lagunya selesai.. Selain suara dan lagunya enak, saya dalam hati ingin anak muda itu suatu saat bisa sukses dengan berlatih dan bisa menghargai uang yang diberikan atas jerih payahnya, bukan karena sebel atau belas kasihan. Dan biasanya dia langsung bersyukur dan pergi dengan sopan…. Saya juga seneng..

Tapi lama lama.. anak laki saya nanya,”pah kenapa sich yang baik, juga nyanyinya bagus malah ditunggu lagunya selesai,kan kasian jadi nunggu dianya..”Tapi kan papa ngasih agak besar.., biarin dia nunggu juga, dia dapat dari hasil kerjanya.””Iya sich…tapi kasian aja.”…Nah..kesempatan ngasih nasehat untuk anak lakiku ini aku pikir…”Nak kamu tau gak, tidak semua keinginan yang langsung diberikan Allah itu berarti Allah cinta pada hamba yang meminta itu, begitu juga keinginan hambanya yang ditunda-tunda atau diganti Allah itu karena Allah benci sama kita…”Gambarannya seperti tukang ngamen yang sering datang tuh….Kalo yang nyeremin dan bikin sebel kan langsung kita kasih, kita ngasih kan bukan karena seneng, tapi biar cepet pergi…Tapi kalau yang datang baik,sopan dan lagu serta suaranya enak didengar, kita tunda sampai lagu selesai, tapi kita kasih agak besar..”….”Jadi Maksudnya…??”

Saya tertawa.“Bisa saja ALLAH juga berlaku begitu pada kita, para hambaNya. JIka ada manusia yang fasik, keji, mungkar, banyak dosa, dan dibenciNya berdoa memohon padaNya, mungkin akan Dia Allah firmankan pada malaikat : Cepat berikan apa yang dia minta. Aku risi mendengar pintanya!”“Tapi,Kalau yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintaiNya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan yang sunnah; maka mungkin saja ALLAH akan berfirman pada malaikatNya :Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hambaKu ini terus meminta, terus berdoa, terus menghiba. Aku menyukai doa-doanya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyuk dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang diucapkannya. Aku tak ingin dia menjauh dariKu setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintainya.Jadi jangan kaget,kalau kita rajin ibadah,sepertinya doa kita gak di Kabul Kabul,ditunda atau diganti,yang pasti Allah akan menjawab doa kita…. ”

 

Saat Allah menjawab doamu

Dia meminta imanmu

Saat Allah belum mejawab doamu

Dia meminta kesabaranmu

Saat Allah menjawab tapi bukan doamu

Dia memilihkan yang terbaik untukmu..